Islam di Andalusia

ISLAM DI ANDALUSIA (SPANYOL)
(Tugas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam)
muntaha
I.               PENDAHULUAN

Dalam khazanah Sejarah Peradaban Islam, Dinasti Umayyah dibagi ke dalam dua zona dan periode kekuasaan, Timur berpusat  di Damaskus dan Barat berpusat di Spanyol atau Andalusia. Dalam Enseklopedi Islam Andalusia adalah sebuah nama yang dikenal di dunia Arab dan Islam untuk semenanjung Iberia. Wilayah itu kini terdiri   dar dua   Negara,   yait Spanyol   da Portugal Sejak Kemenangan Pasukan Islam di bawah kekuasaan Dinasti Amawiyyah dan berhasil merebut serta mengintervensi berbagai kekuatan politik  di Afrika Utara, dengan sendirinya Spanyol telah ikut menyempurnakan keberhasilan mereka. Gubernur Afrika Utara, Musa bin Nusayr mengirim pasukan untuk melakukan penaklukan ke wilayah ini yang dipimpin oleh Panglima Tariq bin Ziyad pada tahun 710 M. dan tidak mendapatkan perlawanan yang intensif dari penguasa mereka. Hal ini terjadi karena secara politis pemerintahan pada waktu itu sangat lemah dan tidak mendapat dukungan yang berarti dari rakyat[1]
Pasukan Tariq bin Ziyad berhasil mengalahkan Raja Roderick dan menewaskannya dalam suatu pertempuran. Kemenangan ini menjadi modal bagi Tariq bin Ziyad dan pasukannya untuk menaklukkan kota lainnya seperti Cordova, Archedonia, Malaga, Elvira, dan akhirnya Toledo, yakni pusat kerajaan Visigoth. Setelah mendengar keberhasilan pasukan Islam, pada tahun 712 M. Musa bin Nusayr memimpin suatu pasukan menuju Andalusia melalui jalan yang tidak dilalui oleh pasukan Tariq bin Ziyad dan berhasil melewati dan menaklukkan   pantai barat semenanjung Spanyol yakni Sevilla dan Merida yang kemudian bertemu dengan pasukan Tariq bin Ziyad di Toledo. Dengan bergabungnya dua pasukan, daerah yang ditaklukan semakin meluas sampai ke Utara seperti Saragossa, Terrofona, dan Barcelona[2]
Setelamenjadbagian dari wilayah Islam yanberlangsung dari tahun 711-755 M, wilayah Spanyol diperintah oleh para gubernur yang diangkat langsung oleh pemerintahan pusat Dinasti Amawiyyah yang berada di Damaskus (Syiria). Namun setelah tumbangnya kekuasaan Dinasti Amawiyyah dan berdirinya Dinasti Abbasiyyah,  para  âmir  atau  gubernur  yang  dulu  beraviliasi  ke Damaskus, kini tidak lagi merasa terikat dengan dinasti sebelumnya yang berpusat di Damaskus maupun dinasti yang baru yang dalam hal ini adalah Dinasti Abbasiyyah yang berpusat di Baghdad.   Kendati para gubernur  itsecara de jure  mengakui eksistensi kekhalifahan Abbasiyyah di Baghdad secara de facto dan politis, mereka tidak mau  terikat  atau  melakukabay'ah  pada  pemerintahan  baru  di Baghdad[3]
Sekalipun Dinasti Amawiyyah telah ditaklukan dan seluruh keturunannya dikejar dan dibunuh,  salah seorang dari mereka, Abd al-Rahman bin Mua'wiyyah bin Hisham bin ‘Abd al-Mâlik (yang kemudian bergelar ‘Abd al-Rahman al-Dakhil yang berarti Sang Penyusup, berhasil meloloskan diri dari pengejaran penguasa Dinasti Abbasiyyah.  Dengan dukungan politik  daristana  Bana  Rustam di Afrika Utara, Abd al-Rahman al-Dakhil mulai menyusup memasuki kota Algeciras tahun 755 M. Dalam tahun 756 M., dimulailah masa pengakuan dan bay'ah terhadap eksistensi dan kemenangan al-Dakhal atas amir-amir di sebagian Spanyol yang meliputi Sevilla, Archidon, Sidonia, dan Moron de Frontura.
Akhirnya, pada tanggal 15 Mei 756 M., Abd al-Rahman al-Dakhil memproklamirkan berdirinya Imarah Amawiyyah II di Andalusia. Dengan demikian, secara resmi dimulailah kekuasaan yang kedua dari Dinasti Amawiyyah sebagai Negara yang berdiri sendiri, berdaulat yang lepas dari Abbasiyyah di Baghdad [4]. Dengan demikian, Spanyol bukan lagi sebagai sebuah provinsi dari sebuah dinasti, akan tetapi sudah menjadi sebuah Negara yang berdaulat yang mempunyai seorang raja yang lebih menyukai menggunakan gelar Amîr al-Muminîn daripada Khalîfah. Sejak saat itu, Spanyol menjadi pusat perdaban Islam di wilayah Eropa yang diperhitungkan oleh negara-negara Eropa dari segi pengaruhnya terhadap peradaban Eropa pada masa itu.
Selanjutnya pada pembahasan Islam di Spanyol ini akan kami sampaikan yaitu Masuknya Islam ke Spanyol, Dinasti-dinasti yang memerintah spanyol, Peradaban Islam di Spanyol, dan kemuduran serta hancurnya umat islam di Spanyol.
II.            MASUKNYA ISLAM KE SPANYOL.

Spanyol diduduki umat Islam pada zaman Khalifah Al- Walid (105-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Sebelum itu, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu   propinsi dari dinasti Bani Umayah. pada zaman al-Walid itu, Musa ibn Nushayr di tunjuk sebagai Gubernur, Ia memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Aljazair dan Moroko. Selain itu, ia juga menyempurnakan kekuasaan ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa barbar di pegunungan-pegunungan, sehingga mereka menyatakan setia dan berjanji tidak akan membuat kekacauan-kekacauan seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Sebelum dikalahkan dan kemudian dikuasai Islam, di kawasan ini terdapat kantung-kantung yang menjadi basis kekuasaan kerajaan Romawi, yaitu kerajaan Gothik. Kerajaan ini sering menghasut penduduk  agar membuat kerusuhan dan menentankekuasaan Islam.  Setelah kawasan   ini      betul-betul   dapat   dikuasai,   umat   Islam   mulai   memusatkan perhatiannya untuk menaklukan Spanyol. Dengan demikian, Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi kaum Muslimin dalam penaklukan wilayah Spanyol [5]
Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan pasukan-pasukan kesana. Mereka adalah Tharif  ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn  Nushair.
1.     Tharif  ibn Malik[6] dapat disebut sebagai perintis dan penyelidikan lapangan. Pada Ramadhan 91 H Ia menyeberangi selat yang berada di antara Morokko  dan  benua  Eropa, mereka mendarat tepat di seberang pantai Tangier (sekarang di kenal dengan sebutan pantai Tarifa, berasal dari nama Tharif) dengan  pasukan  perang lima  ratus  orang diantaranya adalah tentara berkuda. Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya[7].
2.     Thariq ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pada tahun 2 H Musa ibnu Nushayr mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa Ibn Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid. Pasukan itu kemudian menyeberangi Selat dan mendarat di sebuah bukt karang yang tandus, di tempat ini pertama kali Thariq dan pasukanny mendarat   dan   menyiapkan   pasukannya,   dikenal   dengan   nama Gibraltar (Jabal Thariq). Penaklukan demi penaklukan dilancarkan Trhariq hingga berhasil menguasia Cartagena. Ia membangun markas militer di tempat yang langsung menghadap ke Jazirah Khandra. Roderick penguasa Spanyol saat itu memenyiapkan kekuatan besar untuk menghadang laju pasukan Thariq. Thariq mengabarkan hal tersebut kepada Musa dan musa segara mengirimkan bantuan sebanyak 12 ribu pasukan dibawah komando Tharif Ibn Malik. Pada Ahad 28 Ramadhan 92 H kedua pasukan bertemu di muara sungai Barbate atau Wali Lakka dekat kota Medina-Sidonia. Perang berkobar selama selama 8 hari. Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq dan pasukannya terus menaklukan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada, dan Toledo (ibu kota kerajaan Goth saat itu). Sebelum Thariq menaklukan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa ibn Nushair di Afrika Utara. Musa mengirimkan tambahan pasukan sebanyak 5000 personel, sehingga jumlah pasukan Thariq seluruhnya 12.000 orang. Jumlah ini belum sebanding  dengan pasukan Gothik yang jauh lebih besar, 100.000 orang. Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq ibn Ziyad membuka jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi[8].  
3.     Musa ibn Nushair merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Dengan suatu pasukan yang besar, ia berangkat menuju Andalusia melalui daerah selatan dan Barat Andalusia (wilayah yang belum terjamah Thariq), dan satu persatu kota yang dilewatinya dapat ditaklukannya. Setelah Musa berhasil menaklukan Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan kerajaan Gothic di bawah kekuasaan Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Saragosa sampai Navarre[9]. Berita tersebut segera disampaikan kepada Walid bin Abdul Malik di Damaskus, mendengan berita tersebut Khalifah langsung bersujud mengucapkan rasa syukur.[10] Hanya satu kota yang tidak dapat mereka taklukkan yaitu Galicia yang kemudian hari menjadi markas pemberontak dalam melawan kekuasaan muslim[11]

III.          PERIODESASI  MEMERINTAH SPANYOL.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir disana, Islam memainkan peranan yang sangat besar. Masa itu berlangsung lebih dari tujuh setengah abad. Sejarah panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol itu dapat dibagi menjadi enam periode, yaitu :

1. Periode Pertama (92 H -138 H / 711-755 M)
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para walyang diangkat oleh khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas  politik  negeri  Spanyol  belum  tercapai  secara  sempurna,  gangguan-gangguan masih terjadi, baik datang dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari dalam antara lain (a).perselisihan di antara elite penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan, (b). Perbedaan pandangan antara khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Masing-masing mengaku bahwa merekalah yang paling berhak menguasai daerah Spanyol  ini. (c) persaingan  antar etnis Arab sendiri terdapat dua golongan yang terus menerus bersaing, yaitu suku Qaisy (Arab Utara) dan Arab Yamani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini seringkali menimbulkan konflik politik, terutama ketika tidak ada figur yang tangguh. (d). Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam [12].

2. Periode Kedua (138-300H/755-912 M)
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar  amir (panglima atau  gubernur)  tetapi  tidak  tunduk  kepada  pusat pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh khalifah Abbasiyah di Bagdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol tahun 138 H / 755 M dan diberi gelar Al-Dakhil (Yang Masuk ke Spanyol). Dia adalah keturunan Bani Umayah yang berhasil lolos dari kejaran Bani Abbas ketika yang terakhir ini berhasil menaklukan Bani Umayah di Damaskus. Selanjutnya, ia berhasil mendirikan dinasti Bani Umayah di Spanyol. Penguasa-penguasa Spanyol pada periode ini adalah Abd  al-Rahman  al  Dakhil,  Hisyam  I,  Hakam  I,  Abd  al  Rahman  al-Ausath, Muhammad   ibn   Abd   al-rahman Munzi ibn   Muhammad   dan   Abdullah   ibn Muhammad.
Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan, baik dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban. Abd al-Rahman al-Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol [13]. Hisyam dikenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam, pada masanya ulma fiqh mendapat kedudukan terhormat dan mulia[14] dan Hakam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Sedangkan Abd al-Rahman al-Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pemikiran filsafat juga mulai masuk pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman al Aushat. Ia mengundang para ahli dari dunia Islam lainnya untuk datang ke Spanyol sehingga kegiatan ilmu pengetahuan di Spanyol mulai semarak [15].
Sekalipun demikian, berbagai ancaman dan kerusuhan terjadi. Pada pertengahan abad ke-9 stabilitas negara terganggu dengan munculnya gerakan Kristen fanatik yang mencari kesyahidan  (Martyrdom). Gereja Kristen lainnya di seluruh Spanyol tidak menaruh simpati pada gerakan itu, karena pemerintah Islam mengembangkan kebebasan beagama. Penduduk Kristen diperbolehkan memiliki pengadilan sendiri berdasarkan hukum Kristen. Peribadatan tidak dihalangi. Lebih dari itu, mereka diizinkan mendirikan gereja baru, biara-biara di samping asrama rahib atau lainnya. Mereka juga tidak dihalangi bekerja sebagai pegawai pemerintahan atau menjadi karyawan pada instansi militer [16].
Gangguan politik yang paling serius pada periode ini datang dari umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk negara kota yang berlangsung selama 80 tahun. Di samping itu sejumlah orang yang tak puas membangkitkan revolusi. Yang terpenting diantaranya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Hafshun dan anaknya yang berpusatdi pegunungan dekat Malaga. Sementara itu, perselisihan antara orang-orang Barbar dan orang-orang Arab masih sering terjadi[17].

3. Periode Ketiga (300-404 H/ 912-1013 M)
Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan  Abd  al-Rahman III yang bergelar An-Nasir sampai munculnya “raja-raja kelompok yang dikenal dengan sebutan Muluk al-Thawaif. Pada periode ini Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar khalifah, penggunaan gelar khalifah tersebut bermula dari berita yang sampai kepada Abdurrahman III, bahwa Al-Muktadir, Khalifah daulat bani Abbas di Baghdad  meninggal  dunia  dibunuh  oleh  pengawalnya  sendiri.  Menurut penilaiannya, keadaan ini menunjukkan bahwa suasana pemerintahan Abbasiyah sedang berada dalam kemelut. Ia berpendapat bahwa saat ini merupakan saat yang paling tepat untuk memakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan Bani Umayyah selama 150 tahun lebih. Karena itulah, gelar ini dipakai mulai tahun 929 M. Khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini ada tiga orang, yaitu Abd al-Rahman al-Nasir (912-961 M), Hakam II  (961-976 M) dan Hisyam II  (976-1009 M)[18].
Pada  periode  ini  umat  Islam  Spanyol  mencapai  puncak kemajuan  dan kejayaan  daulat  Abbasiyah  di Baghdad.  Abd  al-Rahman  al  Nashir  mendirikan universitas Cordova. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga seorang kolektor buku dan pendiri perpustakaan. Pada masa ini, masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan kota berlangsung cepat. Awal  darkehancuran  khalifah  Bani  Umayyah  di  Spanyol  adalah  ketika Hisyam naik tahta dalam usia sebelas tahun. Oleh karena itu kekuasaan aktual berada ditangan para pejabat. Pada tahun 981 M, Khalifah menunjukkan ibn Abi’ Amir sebagai pemegang kekuasaan secara mutlak. Dia seorang ambisius yang berhasil menancapkan kekuasaannya dan melebarkan wilayah kekuasaan Islam dengan menyingkirkan rekan-rekan dan saingan-saingannya. Atas keberhasilan-keberhasilannya, ia mendapat gelar al-Manshur Billah. Ia wafat pada tahun 1002 M dan digantikan oleh anaknya al-Muzaffar yang masih dapat mempertahankan keunggulan kerajaan. Akan tetapi, setelah wafat pada tahun1008 M, ia digantikan oleh adiknya yang tidak memiliki kualitas bagi jabatan itu. Dalam beberapa  tahun  saja,  negara  yang  tadinya  makmur  dilanda  kekacauan  dan akhirnya hancur total. Pada tahun 1009 M khalifah mengundurkan diri. Beberapa orang yang  dicoba  untuk  menduduki  jabatan  itu  tidak  ada  yang  sanggup memperbaiki keadaan. Akhirnya pada tahun 1013 M, Dewan menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan khalifah. Ketika itu, Spanyol sudah terpecah dalam banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu[19].

4. Periode Keempat  (404 – 479 H/1013-1086 M)
Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil di   bawah   pemerintahan   raja-raja   golongan   atau   Al-Mulukuth-Thawaif berikut ini Raja-raja kecil yang masyhur kala itu:
·       Bani Abbad di Sevilla
·       Bani Hamud di Malaga dan Algeciras
·       Bani Ziri di Granada
·       Bani Hud di Zaragoza
·       Bani Al-Nun di Toledo
Yang terbesar di antaranya adalah Abbadiyah di Seville. Pada periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya orang-orang kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan [20]. Meskipun kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para sarjana dan sasterawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu istana ke istana yang lain[21].



5. Periode Kelima ( 479 - 646 H/1086-1248 M)
Pada periode ini Spanyol Islam meskipun masih terpecah dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang didominasi, yaitu kekuasaan   dinasti Murabithun (1086-1143 M) dan dinasti Muwahhidun [1146-1235 M). Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 m ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Ia masuk ke Spanyol atas undangan penguasa-penguasa Islam di sana yang tengah memikul beban berat perjuangan mempertahankan negeri-negerinya dari serangan-serangan orang-orang kristen. Ia dan tentaranya memasuki Spanyol pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan pasukan   Castilia.   Karena   perpecahan   di   kalangan   raja-raj muslim Yusuf melangkah lebih jauh untuk menguasai Spanyol dan ia berhasil untuk itu. Akan tetapi, penguasa-penguasa sesudah ibn Tasyfin adalah raja-raja yang lemah. Pada tahun  1143  Mkekuasaan  dinastini  berakhir,  baik  di  Afrika  Utara maupun  di Spanyol dan digantikan oleh dinasti Muwahhidun.  Pada masa dinasti Murabithun, Saragossa  jatuh ktangan  Kristen,  tepatnya  pada  tahun  1118  M.  Di  Spanyol sendiri, sepeninggal dinasti ini, pada mulanya muncul kembali dinasti-dinasti kecil, tetapi hanya berlangsung tiga tahun Pada tahun 1146 M penguasa dinasti Muwahhidun  yang  berpusat  di  Afrika  Utarmerebut  daerah  ini.  Muwahhidun didirikan oleh Muhammad ibn Tumart (w 1128 M). Dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abd al-Munim, antara tahun 1114 dan 1154 M dan kota-kota muslim penting seperti Cordova, Almeria dan Granada jatuh di bawah kekuasaannya.    Untuk  jangka  waktu  beberapa  dekade,  dinastini  mengalami banyak kemajuan, akan tetapi pada tahun 1212 M, tentara Kristen memperoleh kemenangan besar di Las Navas de Tolesa. Kekalahan-kekalahan yang dialami dinasti Muwahhidun menyebabkan penguasanya memilih untuk meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara pada tahun 1235 M.  Kondisi Spanyol kembali semakin tidak menentu dan tidak terkendali, karana berada di bawah penguasa- penguasa kecil. Dalam kondisi demikian, umat Islam tidak mampu bertahan dari serangan-serangan Kristen yang semakin besar. Pada tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Seville jatuh pada tahun 1248[22].  

6.Periode Keenam ( 646 – 898 H / 1248-1492 M)
Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, di bawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492).  Peradaban Islam kembali mengalami kemajuan seperti di zaman  Abdurrahman  An-Nasir.  Akan  tetapi,  secara  politik  dinasti  ini  hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Kekuasaan Islam  yanmerupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini juga berakhir, karena perselisihan kalangan istana dalam perebutan kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad, merasa tidak  senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai penggantinya menjadi raja dan akhirnya Abu Abdullah Muhammad memberontak dan berusaha merampas kekuasaan. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan oleh Muhammad ibn Saad. Kemudian Abu Abdullah Muhammad meminta bantuan kepada Ferdenand dan Isabella untuk menjatuhkan saudaranya dan dua penguasa Kristen tersebut dapat mengalahkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah Muhammad naik tahta dinobatkan sebagai khalifah. Kerja sama Abu Abdullah Muhammad dengan dua penguasa Kristen tersebut, sebagai awal berakhirnya kekuasaan terakhir umat Islam   di Cordova. Artinya, Ferdenand dan Isabella yang mempersatukan dua kerajaan besar Kristen melalui perkawinan itu tidak cukup merasa puas dengan hanya membantu Abu Abdullah Muhammad, tetapi keduanya ingin merebut kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol.   Maka keduanya melakukan serangan besar-besaran dan Abu Abdullah Muhammad tidak mampu menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya Abu Abdullah Muhammad mengaku kalah. Abu Abdullah Muhammad menyerahkan kekuasaannya kepada Ferdenand dan Isabella dan kemudian hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol pada tahun 1492 M.[23]    Umat Islam  setelah itu dihadapkan kepada  dua  pilihan,  masuk Kristen atau pergi meninggalkan Spanyol.

Qasim Ibrahim mengistilahkan pada masa ini adalah tragedi Umat Islam di Andalusia, beliau membuat periodesai sebagi berikut:
·     pada 907 H/1501 M keluar dekrit kerajaan berisi tentang larangan umat Islam tinggal di granada, siapa yang melanggar diancam hukuman mati dan hartaya disita
·     Pada 908 H/1502 M (12 Februari) keluar dekrit Kerajaan isinya tentang setiap muslim dewasa ( diatas 14 th bagi laki-laki dan wanita 12 th) wajib meninggalkan Granada sebelum bulan Mei, harta tidak boleh dibawa dan tidak boleh pergi menuju Afrika Utara.
·     Pada 909 H/ 1502 H (12 September) keluar dekrit kerajaan tentang larangan menggunakan harta sebelum berlalu dua tahun, mereka boleh bepergian hanya ke Aragon dan Portugal[24].

·     Pada 920 H/1524 M (12 Maret), keluar titah paus tentang paksaan terhadap umat islam untuk memeluk agama kristen katholik . pilihannya keluar dari spanyol atau menjadi budak selamanya, merubah fungsi masjid menjadi gereja.
·     Pada 1007 H/1599 M, keluar dekrit pemuda atau orang dewasa muslim yang memeluk kristen agar dijadikan budak. Harta mereka disita untuk kepentingan agama kristen.
·     Pada 1018 H/ 1609 M (22 September), keluar dekrit yang memerintahkan seluruh umat Islam yang memeluk kristen agar keluar dari spanyol.
Maka pada tahun 1609 M, dapat dikatakan tidak ada lagi umat Islam di daerah ini[25].

IV.          KEMUDURAN DAN HANCURNYA UMAT ISLAM DI SPANYOL

Kemunduran dan kehancuran Islam di Spanyol disebabkan oleh beberapa faktor baik faktor dari dalam (intern) maupun dan luar (ekstern)[26].
·       Faktor-Faktor Intern  Kemunduran dan Kehancuran
Islam di Spanyol mengalami kemunduran disebabkan oleh beberapa faktor dari dalam, yaitu:
1.     Perpecahan dan perebutan kekuasaan
2.     Pribadi dan Kepemimpinan Khalifah
3.     Munculnya Dinasti-Dinasti Kecil
4.     Kesulitan Ekonomi

·       Faktor-Faktor Ekstern Kemunduran dan Kehancuran
Islam di Spanyol mengalami kemunduran disebabkan oleh beberapa faktor dari luar, yaitu :
1.     Konflik Islam-Kristen
2.     Faktor Geografis



DAFTAR PUSTAKA

Aizid, Rizem, 2015. Sejarah Peradaban Islam Terlengkap (Periode Klasik, Pertengahan, dan Modern) (Yogyakarta: Diva Press)
Firdaus, (2009) “Islam di Spanyol Kemunduran dan Kehancuran “, Jurnal el-Harakah, 11:3, (Pekanbaru), http://id.portalgaruda.org/?ref=search&mod=document &select=title &q=islam+di+spanyol&button=Search+Document, 09 Desember 2015.
Mubarok , Jaih, 2004. Sejarah Peradaban Islam, (Bandung; Pustaka Bani Quraisy)
Muhammad Rusydi, 2013 “Kemajuan Spanyol Islam dan Pengaruhnya Terhadap Renaissans di Eropa” , Jurnal Tajdid , 12 : 1, (ed) http://id.portalgaruda.org/?ref=search&mod=document&select=title&q=islam+di+spanyol&button=Search+Document, 09 Desember 2015.
Nurhakim , Moh. 2003.  Sejarah dan Peradaban Islam (Malang: UMM Press)
Sanaky ,Hujair AH, 2008. Pemikiran dan Peradaban Islam : Materi Kuliah PAI UII (Yogyakarta :) http://www.uii.ac.id/component/option,com_docman/ Itemid,507/task, doc_download/gid,56/, 09 Desember 2015
Susanto , Musrifah, 2004. Sejarah Islam Klasik (Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam), (Jakarta; Prenada Media,)
Ubadah. 2008. “Peradaban Islam Di Spanyol Dan Pengaruhnya Terhadap Peradaban Barat”. Jurnal Hunafa. 5:2 (Palu), http://id.portalgaruda.org/?ref= search&mod= document&select=title&q=islam+di+ spanyol & button= Search + Document, 09 Desember 2015.
Qasim A. Ibrahim, Buku Pintar Sejarah Islam, Cetakan II (Jakarta :Zaman, 2014)
Yatim , Badri, 2007. Sejarah Perdaban Islam SPI (Jakarta; Raja Grafindp Persada,)






[1] Ubadah. “Peradaban Islam Di Spanyol Dan Pengaruhnya Terhadap Peradaban Barat”, Jurnal Hunafa, 5:2 (Palu, agustus 2008),152
[2] Ibid, 152
[3] Ibid, 152
[4] Ibid, 153
[5] Muhammad Rusydi, “Kemajuan Spanyol Islam dan Pengaruhnya Terhadap Renaissans di Eropa” , Jurnal Tajdid , 12 : 1 (, Januari-Juni 2013), 549
[6] Berasal dari suku Bar-bar  nama lainnya adalah abu Za’rah 
[7] Qasim A. Ibrahim, Buku Pintar Sejarah Islam, Cetakan II (Jakarta :Zaman, 2014), 297
[8] Ibid, 298
[9] Muhammad Rusydi, “Kemajuan Spanyol Islam dan Pengaruhnya Terhadap Renaissans di Eropa” , Jurnal Tajdid , 12 : 1 (, Januari-Juni 2013), 551
[10] Qasim A. Ibrahim, Buku Pintar Sejarah Islam, Cetakan II (Jakarta :Zaman, 2014), 299
[11] Ibid, 300
[12] Drs. Hujair AH Sanaky, Msi, Pemikiran dan Peradaban Islam : Materi Kuliah PAI UII (Yogyakarta : 2008), 9
[13] Qasim A. Ibrahim, Buku Pintar Sejarah Islam, Cetakan II (Jakarta :Zaman, 2014), 508
[14] Idem, 509
[15] Idem, 513
[16] Drs. Hujair AH Sanaky, Msi, Pemikiran dan Peradaban Islam : Materi Kuliah PAI UII (Yogyakarta : 2008), 10
[17] Qasim A. Ibrahim, Buku Pintar Sejarah Islam, Cetakan II (Jakarta :Zaman, 2014), 516
[18] Drs. Hujair AH Sanaky, Msi, Pemikiran dan Peradaban Islam : Materi Kuliah PAI UII (Yogyakarta : 2008), 10
[19] Ibid, 11
[20] Qasim A. Ibrahim, Buku Pintar Sejarah Islam, Cetakan II (Jakarta :Zaman, 2014), 530
[21] Ibid, 530
[22] Ibdi, 540
[23] Qasim A. Ibrahim, Buku Pintar Sejarah Islam, Cetakan II (Jakarta :Zaman, 2014), 546
[24] Ibid, 548
[25] Ibid, 549
[26] Firdaus, “Islam di Spanyol Kemunduran dan Kehancuran “, Jurnal el-Harakah (2009), 251-256.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teologi Islam